A. Linguistik

Istilah linguistik berpadanan dengan kata linguistics dalam bahasa Inggris, linguis­tique dalam bahasa Prancis, dan linguistiek dalam bahasa Belanda. Istilah itu diturunkan dari bahasa Latin lingua yang berarti ‘lidah’ atau ‘ba­hasa’ (Wanamaja, 1964:241). Dalam bahasa Indonesia, linguistik diterjemahkan menjadi “ilmu bahasa”.

Linguistik dapat didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang bahasa (Lyons, 1971:1; Crystal, 1985:181) atau ilmu yang meng­ka­ji seluk-be­luk bahasa (Sudaryanto, 1995:5; Verhaar, 1996:3). Bahasa yang dimaksud adalah bahasa manusia (Martinet, 1987:19). Stu­di atau telaah il­mi­ah ten­tang bahasa itu dimaksudkan untuk mem­­per­­oleh pe­ngertian yang selengkapnya tentang gejala bahasa secara umum (Uhlen­beck, 1982:5). Maksud studi ba­hasa secara ilmiah adalah penyelidikan bahasa melalui pengamatan-pengamat­an yang teratur dan yang secara empiris dapat dibuktikan benar atau tidaknya serta mengacu kepada suatu teori umum tentang struktur bahasa (Lyons, 1995:1).

Meskipun bahasa-bahasa di dunia ini berbeda satu sama lain, te­ta­pi ada persa­ma­annya juga sehingga kedua hal itu diteliti oleh linguis. Oleh karena itu, linguistik sering kali dikatakan bersifat umum (Verhaar, 1996:4). Jadi, linguistik umum menyangkut kon­sep umum yang diberikan pada teori dasar, konsep dasar, model, dan metode penyelidikan bahasa (Kri­dalaksana, 1982:102).

Linguistik memiliki kekhasan. Kekhasannya adalah adanya ke­kaburan an­tara objek sasaran dengan alat pengembangnya yang po­kok, ya­i­tu bahasa. Lin­guistik harus menerangkan bahasa dengan baha­sa pula (Su­­daryanto, 1983:28). Jadi, linguistik adalah ilmu tentang ba­hasa; ilmu yang penelitiannya bermula dan berakhir pa­da bahasa, dalam bahasa, dan dengan bahasa (Sudaryanto, 1995: 8).

B. Linguis

Ada linguistik, ada pula linguis. Linguistik adalah ilmu yang me­­nye­tudi seluk-beluk bahasa, sedangkan linguis adalah orang yang profe­si­nya menyetudi seluk beluk bahasa itu. Untuk menjadi linguis, diperlukan tiga syarat, yaitu menghayati objek penelitian­nya, menguasai teori dan metode yang cocok dengan objek peneli­tiannya, dan mempunyai kemampuan merumuskan gagasan-ga­gas­annya (Sudaryanto, 1983:69).

Orang yang terampil berbicara dalam bermacam-macam bahasa bukanlah linguis. Orang yang mempunyai keterampilan seperti itu disebut poliglot.

C. Satuan Lingual

Objek sasaran penelitian linguistik adalah bahasa. Bahasa yang di­maksud adalah bahasa manusia (Pateda, 1988:2). Bahasa manusia yang dimaksud­kan adalah bahasa keseharian biasa yang di­gunakan manusia yang berkelompok-kelompok membentuk ber­bagai masyarakat penutur yang ada tersebar di seluruh dunia (Su­daryanto, 1995:2). Dengan kata la­in, bahasa yang dite­liti oleh lin­guistik adalah bahasa manusia (human language) (Widdowson, 1997:3).

Bahasa yang diteliti memiliki tiga sifat, yaitu linear, intensi­o­nal, dan takterdu­ga (Su­daryanto, 1995:47-51). Bahasa dinyatakan bersifat li­ne­ar ka­rena berupa bunyi yang berentet, beruntun, atau berurutan sambung-me­nyam­bung. Bahasa dika­takan bersifat in­tensio­nal karena selalu “meng­arah ke” sesuatu atau hal yang di­bi­carakan (anu terwicara) atau lawan bicara (mi­tra wicara). Bahasa dikata­kan bersifat takterduga karena baik pembicara maupun mitra wicara tidak pernah dapat me­ra­mal­kan apa saja yang akan segera di­katakan.

Bahasa mempunyai fungsi penting dalam kehidupan manusia. Menurut Finch (2003:21-44), bahasa mempunyai fungsi mikro dan fungsi makro. Fungsi mikro mencakup penggunaan individu tertentu, sedangkan fungsi makro berhu­bungan dengan penggunaan bahasa yang menekankan tujuan yang lebih umum, lebih luas (Finch, 2003:21). Fungsi mikro bahasa adalah (a) untuk melepaskan nervous/energi fisis (physiological function), (b) untuk tujuan sosiabilitas/ke­ra­mahan bergaul (phatic function), (c)  untuk menyediakan rekaman (recording function), (d) untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi sesuatu (identifying function), (e) sebagai alat berpikir (reasoning function), (f) sebagai cara mengo­munikasikan ide dan perasaan (communicating function), dan (g) untuk membe­rikan kesenangan (pleasure function). Fungsi makro bahasa berhubungan dengan (a) fungsi ideasional, yaitu penggunaan bahasa untuk menunjuk manusia, peristiwa, dan sebagainya dalam alam di luar bahasa; (b) fungsi interpersonal, yaitu penggunaan bahasa untuk menetapkan dan mempertahankan hubungan sosial; (c) fungsi putis, yaitu penggunaan bahasa demi keindahan bahasa itu sendiri; dan (d) fungsi tekstual, yaitu penggunaan bahasa untuk menandai wacana (Kridalaksana, 2003:68).

Dalam kenyataan ada bahasa lisan dan bahasa tulis. Dari dua je­nis ba­ha­sa itu, bahasa lisanlah yang mendapat prioritas tertinggi untuk diteliti. Hal ini, me­nurut Sudaryanto (1986:42-43), didasar­kan pada em­pat alasan berikut:

1. Bahasa tulis ternyata adanya sebagai turunan dari bahasa lisan.

2. Bahasa tulis baru ada beberapa puluh abad yang lalu, sedang­kan baha­sa lisan telah ada beratus-ratus abad sepanjang seja­rah kehi­dup­an umat manusia.

3. Bahasa tulis tidak melingkupi semua masyarakat yang ada di mu­ka bumi, sedangkan bahasa lisan selalu menjadi milik takter­pi­sah­kan da­ri semua orang dalam lingkup ma­syarakat apa pun.

4. Bahasa tulis masyarakat tertentu konon selalu dipelajari dan di­kuasai setelah penuturnya memahami bahasa lisan masya­ra­kat yang bersang­kutan.

Sebagai turunan dari bahasa lisan, bahasa tulis tentu saja ju­ga di­te­liti oleh linguistik, tetapi bahasa tulis itu dipandang sebagai objek sa­sar­an sekunder. Objek sasaran primernya adalah bahasa lisan itu. Yang per­lu ditekankan adalah bahasa lisan yang merupa­kan prio­ritas tertinggi untuk diteliti itu memiliki ciri (a) alamiah hidupnya, (b) normal pemakainya, dan (c) wajar (situasi) pema­kai­annya (Sudar­yan­to, 1992:45).

Bahasa dapat mengacu pada konsep langage, langue, dan parole. Langage berarti bahasa pada umumnya, langue berarti ba­hasa tertentu, dan parole berarti bahasa orang per orang. Parole itu me­ru­pakan objek sasaran konkret linguistik. Langue adalah objek sasaran linguistik yang sedikit lebih abstrak. Langage me­ru­pakan objek sasaran linguistik yang paling abstrak.

Bahasa dapat pula mengacu pada konsep idiolect, dialect, dan lan­­­­guage. Idiolect adalah ‘kebiasaan bicara seseorang sehing­ga dapat dikenali siapakah dia’, dialect adalah bahasa yang di da­lamnya pende­ngar dapat memahami penuh apa yang dituturkan pembicara sehingga da­pat ber­peranan timbal balik bergantian de­ngan cara sesekali pende­ngar men­jadi pembicara dan pembicara menjadi pendengar’, sedangkan language adalah “tingkat atas” atau superstratum dari dialek-dialek (Su­dar­yanto, 1995:32).

Bahasa dapat pula mengacu pada konsep performance atau performansi dan competence atau kompetensi. Performance ada­lah ‘penga­sattelingaan atau pengasatmataan bahasa oleh siapa pun sehing­ga bahasa itu dapat didengar (kalau diucapkan) atau dilihat (kalau dituliskan)’ dan competence adalah ‘kemampuan berbahasa yang dimiliki juga oleh siapa pun’ (Sudaryanto, 1995:32-33).

Konsep manakah yang dimaksud di dalam linguistik? Yang ber­hu­­bungan dengan linguistik adalah bahasa dalam konsep lan­gage, lan­gue, dan parole. Yang ingin diketahui oleh linguistik pa­da hakikatnya adalah langage atau bahasa keseharian manusia pa­da umumnya, tetapi untuk sampai pada taraf itu linguistik harus meneliti langue atau bahasa terten­tu yang dipakai oleh masyarakat tertentu, dan untuk meneliti lan­gue itu linguistik harus memper­ha­tikan parole atau penggunaan bahasa sese­o­rang indi­vidu.

Bahasa bersifat abstrak. Bahasa itu adanya hanya dalam pe­ma­kai­an (Su­daryanto, 1983:162). Bahasa dapat dikenali lewat wu­jud kon­kret­nya. Wujud konkret bahasa itu adalah satuan-satuan lingual atau satuan-satuan kebahasaan. Satuan lingual adalah satu­an yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun ar­ti grama­tikal (lih. Ramlan, 2001:27). Satuan lingual itu merupakan sa­tuan dalam struktur bahasa (Kridalaksana, 1982:148). Satuan lingual itu an­tara lain berwujud kata dan ka­limat. Jadi, sa­tuan-satuan lingual itu­lah yang merupakan ob­jek sasaran konkret linguis­tik.